TENGGARONG – Semarak perhelatan Erau Adat Kutai Kartanegara Tahun 2026 kembali menghadirkan salah satu tradisi budaya yang penuh makna, yakni Beseprah. Tradisi turun-temurun masyarakat Kutai ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan Erau yang tidak hanya menyuguhkan kekayaan adat istiadat, tetapi juga memperlihatkan eratnya hubungan kebersamaan antara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengan seluruh lapisan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, jajaran Pemerintah Kecamatan Loa Kulu turut hadir dan meramaikan kegiatan Beseprah yang berlangsung di sepanjang jalan depan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tenggarong. Kehadiran jajaran Kecamatan Loa Kulu menjadi bentuk partisipasi dalam mendukung pelestarian adat dan budaya daerah sekaligus memeriahkan salah satu agenda kebudayaan terbesar di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Beseprah merupakan tradisi makan bersama dengan cara duduk bersila di atas tikar atau kain putih yang melibatkan Sultan Kutai Kartanegara bersama masyarakat dari berbagai kalangan, tanpa membedakan kedudukan, jabatan, maupun status sosial. Dalam tradisi ini, seluruh peserta duduk bersama menikmati hidangan yang telah disiapkan, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh keakraban.
Lebih dari sekadar kegiatan makan bersama, Beseprah memiliki filosofi mendalam tentang kesetaraan, persaudaraan, kerendahan hati, serta rasa kebersamaan. Tradisi ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak ada sekat antara pemimpin dan rakyat, pejabat dan masyarakat, maupun golongan satu dengan lainnya. Semuanya menyatu dalam satu suasana kebersamaan yang menjadi cerminan nilai luhur budaya Kutai.
Sejak kegiatan berlangsung, suasana di sepanjang jalan depan Keraton tampak dipenuhi masyarakat yang antusias mengikuti rangkaian Beseprah. Berbagai hidangan khas disajikan di atas hamparan kain putih, sementara para peserta duduk bersila secara bersama-sama. Nuansa adat dan budaya yang kental semakin menambah keistimewaan kegiatan tersebut, sekaligus menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya dapat dinikmati oleh masyarakat lokal, tetapi juga menjadi daya tarik bagi para pengunjung dari berbagai daerah.
Bagi masyarakat Kutai Kartanegara, tradisi Beseprah merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai historis dan sosial yang penting. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan suatu daerah tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan masyarakatnya dalam menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta merawat warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Partisipasi Pemerintah Kecamatan Loa Kulu dalam kegiatan ini juga menjadi wujud dukungan terhadap upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kesultanan dalam mempertahankan eksistensi tradisi adat di tengah perkembangan zaman. Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, tokoh adat, komunitas budaya, hingga generasi muda agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Melalui momentum Erau Adat Kutai 2026 yang mengusung tema “Raja Menjamu Rakyatnya”, tradisi Beseprah semakin mempertegas makna hubungan harmonis antara Kesultanan dan masyarakat. Tema tersebut sejalan dengan semangat Beseprah yang menghadirkan kebersamaan melalui jamuan makan bersama, sekaligus menjadi gambaran kedekatan dan perhatian dalam kehidupan bermasyarakat.
Diharapkan melalui penyelenggaraan Erau Adat Kutai setiap tahunnya, berbagai tradisi dan kearifan lokal masyarakat Kutai Kartanegara dapat terus dikenal, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Sebab, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas dan jati diri daerah yang harus senantiasa dijaga bersama.
Beseprah bukan hanya tentang menikmati hidangan bersama, tetapi tentang merawat persaudaraan, menyatukan perbedaan, dan memperkuat kebersamaan dalam bingkai budaya Kutai Kartanegara.







